Showing posts with label Budaya Suku Buton. Show all posts
Showing posts with label Budaya Suku Buton. Show all posts

Thursday, 21 April 2016

Benteng Keraton Buton

Benteng Keraton Buton Benteng Keraton Buton merupakan salah satu objek wisata bersejarah di Bau-bau, Sulawesi Tenggara. Benteng ini merupakan bekas ibukota Kesultanan Buton memiliki bentuk arsitek yang cukup unik, terbuat dari batu kapur/gunung. Benteng yang berbentuk lingkaran ini dengan panjang keliling 2.740 meter. Benteng Keraton Buton mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) dan Guiness Book Record yang dikeluarkan bulan september 2006 sebagai benteng terluas di dunia dengan luas sekitar 23,375 hektar.
Benteng ini memiliki 12 pintu gerbang yang disebut Lawa dan 16 emplasemen meriam yang mereka sebut Baluara. Karena letaknya pada puncak bukit yang cukup tinggi dengan lereng yang cukup terjal memungkinkan tempat ini sebagai tempat pertahanan terbaik di zamannya. Dari tepi benteng yang sampai saat ini masih berdiri kokoh anda dapat menikmati pemandangan kota Bau-Bau dan hilir mudik kapal di selat Buton dengan jelas dari ketinggian,suatu pemandangan yang cukup menakjukkan. Selain itu, di dalam kawasan benteng dapat dijumpai berbagai peninggalan sejarah Kesultanan Buton.

Sejarah

Benteng Keraton Buton dibangun pada abad ke-16 oleh Sultan Buton III bernama La Sangaji yang bergelar Sultan Kaimuddin (1591-1596). Pada awalnya, benteng tersebut hanya dibangun dalam bentuk tumpukan batu yang disusun mengelilingi komplek istana dengan tujuan untuk mambuat pagar pembatas antara komplek istana dengan perkampungan masyarakat sekaligus sebagai benteng pertahanan. Pada masa pemerintahan Sultan Buton IV yang bernama La Elangi atau Sultan Dayanu Ikhsanuddin, benteng berupa tumpukan batu tersebut dijadikan bangunan permanen.
Pada masa kejayaan pemerintahan Kesultanan Buton, keberadan Benteng Keraton Buton memberi pengaruh besar terhadap eksistensi Kerajaan. Dalam kurun waktu lebih dari empat abad, Kesultanan Buton bisa bertahan dan terhindar dari ancaman musuh. Dari tepi benteng yang sampai saat ini masih berdiri kokoh anda dapat menikmati pemandangan kota Bau-Bau dan hilir mudik kapal di selat Buton dengan jelas dari ketinggian

Bagian

Benteng ini terdiri dari tiga komponen yaitu Badili, Lawa, dan Baluara

Badili (Meriam)

Obyek wisata ini merupakan meriam yang terbuat dari besi tua yang berukuran 2 sampai 3 depa. Meriam ini bekas persenjataan Kesultanan Buton peninggalan Portugis dan Belanda yang dapat ditemui hampir pada seluruh benteng di Kota Bau-Bau.

Lawa

Dalam bahasa Wolio berarti pintu gerbang. Lawa berfungsi sebagai penghubung keraton dengan kampung-kampung yang berada di sekeliling benteng keraton. Terdapat 12 lawa pada benteng keraton. Angka 12 menurut keyakinan masyarakat mewakili jumlah lubang pada tubuh manusia, sehingga benteng keraton diibaratkan sebagai tubuh manusia. Ke-12 lawa memiliki masing-masing nama sesuai dengan gelar orang yang mengawasinya, penyebutan lawa dirangkai dengan namanya. Kata lawa diimbuhi akhiran ‘na’ menjadi ‘lawana’. Akhiran ‘na’ dalam bahasa Buton berfungsi sebagai pengganti kata milik “nya”. Setiap lawa memiliki bentuk yang berbeda-beda tapi secara umum dapat dibedakan baik bentuk, lebar maupun konstruksinya ada yang terbuat dari batu dan juga dipadukan dengan kayu, semacam gazebo di atasnya yang berfungsi sebagai menara pengamat. 12 Nama lawa di antaranya : lawana rakia, lawana lanto, lawana labunta, lawana kampebuni, lawana waborobo, lawana dete, lawana kalau, lawana wajo/bariya, lawana burukene/tanailandu, lawana melai/baau, lawana lantongau dan lawana gundu-gundu.

Baluara

Kata baluara berasal dari bahasa portugis yaitu baluer yang berarti bastion. Baluara dibangun sebelum benteng keraton didirikan pada tahun 1613 pada masa pemerintahan La Elangi/Dayanu Ikhsanuddin (sultan buton ke-4) bersamaan dengan pembangunan ‘godo’ (gudang). Dari 16 baluara dua diantaranya memiliki godo yang terletak diatas baluara tersebut. Masing-masing berfungsi sebagai tempat penyimpanan peluru dan mesiu. Setiap baluara memiliki bentuk yang berbeda-beda, disesuaikan dengan kondisi lahan dan tempatnya. Nama-nama baluara dinamai sesuai dengan nama kampung tempat baluara tersebut berada. Nama kampung tersebut ada di dalam benteng keraton pada masa Kesultanan Buton.
16 Nama Baluara yaitu : baluarana gama, baluarana litao, baluarana barangkatopa, baluarana wandailolo, baluarana baluwu, baluarana dete, baluarana kalau, baluarana godona oba, baluarana wajo/bariya, baluarana tanailandu, baluarana melai/baau, baluarana godona batu, baluarana lantongau, baluarana gundu-gundu, baluarana siompu dan baluarana rakia.

Makna Pakaian Adat Tradisional Buton

 

Indonesia terdiri dari beraneka ragam suku bangsa, agama dan kebudayaan. Keanekaragaman inilah yang menjadi ciri khas bagi bangsa Indonesia dibandingkan negara-negara lain di dunia ini. Salah satu unsur yang masih tetap dibina dan dilestarikan serta dikembangkan dari keanekaragaman tersebut ialah adat istiadat dan diselenggarakan oleh kelompok masyarakat adat pada suatu suku secara tradisional. Arti penting pemahaman unsur-unsur kebudayaan semacam ini adalah untuk mengetahui nilai-nilai budaya apa saja yang ingin disampaikan secara langsung maupun tidak langsung baik secara sadar maupun tidak disadari telah dijadikan kerangka atau acuan pola bertindak oleh sekalian warga masyarakat pendukung budaya bersangkutan.

Dalam penyelenggaraan acara tersebut pakaian adat merupakan suatu hal yang tidak bisa dilepaskan dari prosesi adat yang diselenggarakan. Pakaian adat yang digunakan biasanya bergantung dari jenis acara-acara adat yang diselenggarakan atau dilaksanakan. Pakaian adat yang digunakan oleh masyarakat mempunyai fungsi adat, disamping itu juga terkandung nilai-nilai moral, nilai-nilai sosial, nilai-nilai agama atau kepercayaan dan lain-lain. Dalam hal ini adalah pakaian adat tradisional Buton yang dipakai oleh masyarakat baik secara perorangan maupun secara kelompok.

Bagi masyarakat kota Bau-Bau (dulu kabupaten Buton), pakaian adat tradisional mempunyai makna secara khusus. Dalam arti bahwa masyarakat yang menggunakan pakaian adat tradisional tersebut dengan ciri-ciri atau spesifikasi tertentu baik warna, bentuk, perhiasan dan jumlah aksesoris yang digunakan maupun perlengkapan lainnya adalah mereka yang memiliki status sosial yang lebih tinggi dalam tingkat kehidupan masyarakat Buton pada masa lampau maupun saat ini. Keberadaan pakaian adat tradisional pada suatu daerah merupakan suatu kebanggaan masyarakat itu sendiri dalam menyampaikan pesan kepada lingkungan sosial dimana dia berada secara tidak langsung.
Pakaian adat tradisional yang digunakan oleh masyarakat Buton terdiri dari berbagai jenis dan fungsi yang berbeda dalam setiap penggunaannya. Pada umumnya pakaian adat tradisional yang ada lebih cenderung digunakan oleh golongan-golongan bangsawan seperti Sultan, perangkat masjid agung Keraton Buton, pegawai kesultanan dan jabatan-jabatan yang ada dalam struktur pemerintahan kesultanan Buton. Hal ini dapat dibenarkan karena secara lahiriah subyek-subyek yang dikemukakan di atas merupakan perwakilan dari perwujudan tata kehidupan sosial masyarakat suku Buton secara keseluruhan.
Namun demikian, penggunaan atau pemakaian pakaian adat tradisional adat Buton dalam berbagai kesempatan khusus hampir sebagian masyarakat sudah tidak mengetahui makna-makna yang terkandung dalam pakaian adat tradisional Buton tersebut. Sebagai contoh; pemakaian pakaian pingitan atau (Posuo) bagi anak putri yang memasuki usia remaja antara lain jenis pakaian yang dipakai, aksesoris yang digunakan, perlengkapan-perlengkapan dan lain-lain sehingga apa hubungannya dengan makna yang terkandung pada pakaian adat tradisional tersebut, karena hal-hal tersebut juga dilaksanakan oleh seluruh masyarakat suku Buton. Dengan kata lain apa, kenapa, dimana dan bagaimana pakaian adat tradisional tersebut digunakan.
Seiring perkembangan kehidupan dalam masyarakat saat ini penggunaan pakaian adat tradisional pada berbagai kesempatan khusus masih sering digunakan. Namun sangat disayangkan sebagian masyarakat sudah tidak lagi memahami makna yang terkandung dalam pakaian adat tradisional tersebut. Hal ini berarti akan mengurangi nilai-nilai keutuhan adat secara luas.
Gambaran Umum Pakaian Adat Tradisional Buton
Secara singkat, pakaian adat tradisional Buton yang sampai saat ini masih digunakan adalah sebagai berikut :
a). Pakaian anak-anak
            1. Tipolo (Pakaian putri cilik / balita)
            2. Songko Madina  (Pakaian putra cilik usia balita)
b). Pakaian Posusu (perempuan)  dan Tandaki  (laki-laki)  (Pakaian putra putri pada saat dikhitan/ sunat)
c). Pakaian Remaja
            1. Ajo Bantea (Pakaian putra)
            2. Mobawana Mantomu (pakaian putri)
d). Pakaian Kombo (Pakaian gadis) ketika baru selesai di pingit.
e). Pakaian Kalambe (Pakaian gadis yang sudah dipingit).
f). Pakaian Sio Limbona (Pakaian orang tua)
g). Pakaian Sultan dan Permaisuri
(Sumber : Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kota Bau-Bau : 2001)
Kehidupan masyarakat Buton tidak terlepas pula dari adanya stratifikasi/penggolongan kelas sosial masyarakat, yang terdiri dari:
a). Golongan Kaomu
Golongan Kaumu adalah golongan bangsawan dengan gelar La Ode bagi laki-laki dan Wa Ode  bagi perempuan. Golongan inilah yang paling berhak menduduki jabatan-jabatan dalam struktur pemerintahan  kesultanan Buton seperti Sultan, Imam Mesjid Agung (ulama), Khatib, Sapati, Kapitalao (panglima perang) dan lain-lain, dengan tanda-tanda kebesaran khusus baik pakaian maupun lainnya berdasarkan adat dan ketentuan yang telah disepakati bersama.
b). Golongan Walaka.
Golongan Walaka adalah golongan masyarakat biasa, atau masyarakat merdeka atau masyarakat pada umumnya. Namun golongan ini diantaranya ada yang dipilih oleh kelompok-kelompok masyarakatnya tersebut menjadi anggota adat / legislatif dalam penyelenggaraan adat. Golongan ini jugalah yang berhak memilih dan melantik calon sultan Buton pada saatnya.
c). Golongan Papara
Golongan masyarakat ini sebenarnya tidak ada dalam masyarakat Buton, hanya saja dipakainya istilah ini karena terjadinya sistem perbudakan atau pengasingan politik oleh kesultanan Buton pada masa lampau. Tetapi sesungguhnya tidak pernah terjadi sistem perbudakan dalam masyarakat atau kesultanan Buton sendiri. Perbudakan hanya dilakukan oleh para penjajah kolonial Belanda.

  
      Jenis dan Makna yang terkandung pada pakaian adat tradisional Buton
      Pakaian adat tradisional yang ada pada suatu daerah umumnya juga digunakan oleh hampir setiap orang yang berada pada suatu daerah adat tertentu, terlepas dari stratifikasi sosial yang ada. Namun demikian pada penggunaan pakaian adat tradisional tersebut biasanya ada saja sesuatu hal yang membedakan status sosial penggunanya, apakah golongan bangsawan kedudukannya ataukah masyarakat biasa. Salah satu contoh pemakaian pakaian adat tradisional oleh masyarakat yaitu pakaian pengantin.
Dalam tradisi masyarakat Buton yang masih terikat erat dengan sistem adat yang berlaku, penggunaan atau pemakaian pakaian adat tradisional juga digunakan oleh seluruh masyarakat yang menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang masih berhubungan dengan adat. Hanya saja pengguna pakaian adat tersebut dapat dengan mudah diketahui kedudukan sosialnya berdasarkan stratifikasi sosial masyarakat Buton yang telah dikemukakan sebelumnya.
Lebih lanjut, berdasarkan hasil wawancara dengan para narasumber atas beberapa pertanyaan yang diajukan maka dapat diperoleh data-data mengenai makna yang terkandung dalam pakaian adat tradisional Buton.
     1.  Pakaian Balahadada
Pakaian Balahadada merupakan pakaian kebesaran bagi seorang laki-laki suku Buton baik bagi seorang bangsawan maupun bukan bangsawan. Hal ini disebabkan karena pada masa lampau pakaian ini merupakan pakaian para pejabat-pejabat kesultanan Buton. Pakaian ini juga, pada masa masih jayanya masa pemerintahan kesultanan Buton yang berakhir pada sultan ke 38  La Ode Muhammad Falihi Isa Qaimuddin (Oputa Moko Baadianai) hingga tahun 1963 adalah digunakan oleh pejabat dari golongan bangsawan (La Ode) yang dilkengkapi dengan berbagai macam kelengkapan pakaian baik untuk jabatan Lakina, Bobato, Bonto Ogena, Kapitalao, Syahabandara, dan jabatan-jabatan lain yang khusus dijabat oleh golongan bangsawan.
Pakaian Balahadada dapat diartikan sebagai pakaian belah dada. Dikatakan demikian karena pakaian tersebut tidak memiliki kancing sehingga sipemakai dapat terlihat dadanya. Pakaian ini baik dari kepala sampai pada kaki terdiri dari :
(1) Destar
Dalam bahasa Wolio (Buton) destar dikenal dengan nama Kampurui. Kampurui  terdiri dari beberapa jenis antara lain Kampurui  Bewe Patawala, Kampurui  Bewe Palangi, Kampurui  Tumpa dan Kampurui  Bewe Poporoki berdasarkan bentuk dan warnanya. Keempat Kampurui ini pada bahagian sekelilingnya dijahitkan benang emas atau perak yang disebut ”Jai” atau ”Pasamani”.

(2) Baju
Baju yang digunakan adalah baju Balahadada yang bahan dasarnya sesuai dengan aslinya terbuat dari beludru berwarna hitam. Sekujur bagian baju dipenuhi dengan hiasan-hiasan yang terbuat dari emas atau perak. Hiasannya merupakan bundaran-bundaran kecil yang bertaburan secara teratur dan dinamakan sebagai Buka-Buka. Pada pinggiran baju terdapat hiasan Pasamani. Pada leher baju hiasan Pasamani lebih besar dan mencolok dan ditempelkan Ake yang terbuat dari emas atau perak. Pada masing-masing belahan belahan dada baju dilekatkan sebuah Ake besar yang berpangkal dari bawah leher baju langsung turun sampai perut baju. Di atas Ake baik yang ada pada leher maupun belahan dada, disebelah kanan masing-masing dilekatkan enam sampai tujuh buah kancing kerucut segi lima pada ujung kengan baju yang hanya berfungsi sebagai hiasan.

(3) Celana
Celana yang digunakan disebut dengan Sala Arabu atau dapat diartikan sebagai celana panjang Arab. Warna dan motif yang terdapat pada celana Sala Arabu ini sama dengan motif yang ada pada baju Balahadada. Pada bagian kaki celana terdapat belahan sedikit, pada pinggir belahan ini dilekatkan pula masing-masing tujuah buah kancing.
(4) Sarung
Disamping memakai celana, pakaian Balahadada juga dilengkapi oleh sarung Samasili Kumbaea, yaitu berdasar warna hitam serta motif kotak-kotak putih. Benang putih yang dijadikan kotak-kotak tersebut adalah benang perak yang dalam bahasa Buton disebut sebagai Kumbaea.
(5) Ikat Pinggang
Ikat pinggang dalam bahasa Buton disebut sebagai Sulepe. Ikat pinggang yang digunakan dalam pakaian Balahadada terbuat dari kain warna hitam dengan kepala ikat pinggang terbuat dari emas atau perak. Bentuk kepala ikat pinggang lonjong telur atau empat persegi panjang dengan ukiran kalimat Tauhid dan motif bunga-bunga dengan nama bunga Rongo pada sekeliling pinggirnya. Ikat pinggang ini dikenakan pada bagian atas baju dengan sebelumnya pada bagian bawah baju dilekatkan sarung.
(6) Keris
Keris dalam bahasa Buton disebut sebagai Tobo (baca: Tobho) atau Puu Salaka atau Puu Taga bergantung dari asal bahan hulu keris.
(7) Bia Ogena
Bia Ogena berarti sarung besar. Tetapi bukan bentuknya yang besar tetapi lebih merupakan sebagai sarung kebesaran yang hanya digunakan oleh pejabat atau anak keturunan bangsawan (La Ode). Bentuk Bia Ogena lebih cenderung menyerupai selendang yang terbuat dari kain sutera berwarna polos dan tidak berjahit. Pemakaiannya dililitkan pada pinggang sedang kedua bagian ujungnya terselip pada hulu keris. Bia Ogena dihiasi pula oleh Pasamani diseluruh pinggirannya.   
MAKNA:
“Destar atau Kampurui  dalam bahasa Buton berarti ikat kepala. Yang mengandung makna kebesaran.kampurui bagi seorang pejabat kesultanan buton sangatlah penting. ini dikaitkan dengan kebijakan atau keputusan yang diambil berhubungan dengan kepentingan dan kemaslahatan rakyat yang ditandai dengan adanya tundu  pada bahagian tengah lilitan Kampurui yang bermakana sebagai penjelmaan dari matahari yang berarti memberikan pencerahan. 
Balahadada adalah baju yang tidak memiliki kancing yang mengandung arti sebagai perlambangan  keterbukaan sikap pejabat atau sultan terhadap segala sesuatu khususnya urusan masyarakat demi pencapaian kesejahteraan dan kebenaran hukum yang diputuskan dengan jalan musyawarah untuk mufakat. Baju balahadada memiliki dasar warna hitam yang mengandung arti kebenaran yang tak dapat diubah-ubah, warna putih yang ditampilkan pada hiasan-hiasannya mengandung kesucian.
Bia Ogena pada baju Balahadada bermakna kebesaran dan keagungan. Tetapi dibalut oleh ikat pinggang (Sulepe) bertuliskan kalimat Tauhid sebagai perlambangan dari pengukuhan atau pengikat hukum agama dan adat yang harus ditaati oleh orang Buton. Keris yang diselipkan pada bahagian pinggang memiliki makna sebagai perlambangan keberanian yang dibalut dengan sikap lembut dan bijaksana . Akhirnya celana Sala Arabu memiliki makna filosofis yang sama dengan baju Balahadada”.
Balahadada adalah baju dengan dasar warna hitam yang memiliki makna sebagai perlambangan keterbukaan sikap seorang pejabat atau sultan terhadap segala sesuatu khususnya urusan masyarakat demi pencapaian kesejahteraan dan kebenaran hukum yang diputuskan dengan jalan musyawarah untuk mufakat.
Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikutip dari hasil wawancara yang dilakukan dengan bapak La Ode Zaady mengenai baju Balahadada.  
Kampurui melambangkan kebesaran, kebaikan, kebijakan, kebenaran, ketepatan, kelembutan (fleksibilitas dalam hal tertentu) yang dipancarkan oleh seorang sultan atau stafnya dalam menangani urusan pemerintahan dan untuk kemaslahatan/kesejahteraan masyarakat Buton pada masa lampau. Ini dapat dilihat dari bentuk Kampurui  yang diikat sedemikian rupa sehinga tampak seperti memancarkan cahaya.
Baju Balahadada warna aslinya hitam kalau ada warna lain pada baju Balahadada maka hanya untuk memberikan variasi warna dan sama sekali tidak mengurangi makna yang terdapat di dalamnya.
Balahadada ini terdiri dari satu pasang (baju dan celana) dengan warna dan motif yang sama pula. Belahan baju menandakan sikap keterbukaan pemakainya dalam bermusyawarah untuk mencapai mufakat dengan dasar hukum adat maupun agama demi kepentingan bersama.
Keris adalah lambang kejantanan tetapi digunakan secara bijak dan sesuai fungsinya (waktu dan tempat) jika tidak maka keris lebih bermakna sebagai kelembutan sikap pemakainya dimana hal ini sesuai dengan yang terdapat pada hulu keris. Sulepe sebagai pengikat, atau pengukuh aturan-aturan adat artinya bahwa orang yang memakainya harus dikukuhkan dengan ajaran maupun aturan agama islam”.
Kampurui yang digunakan sebagai penutup kepala/ikat kepala bagi masyarakat Buton mengandung lambang kebesaran. Dimana kepala adalah bagian teratas dari badan manusia yang dipandang sebagai penjelmaan dari lapisan langit yang dipancarkan keseluruh alam jagad raya. Kiranya Kampurui  ini dapat disamakan dengan nimbus, prabha, aureul seperti yang terdapat pada lukisan-lukisan orang suci atau lukisan-lukisan pada patung dengan lingkaran cahaya di bagian kepala.
Baju Balahadada dari warnanya yang hitam mengandung arti ketegasan sikap dalam setiap pengambilan keputusan, sedang sarung Bia Ogena dan keris adalah perlambangan sikap kebesaran dan keagungan serta keberanian pemakainya tetapi tetap pada ikatan aturan-aturan adat yang berpangkal pada ajaran agama islam sehingga digunakan secara bijaksana. Sedang motif dan berbagai hiasan lainnya lebih merupakan penambah keindahan dari tampilan pakaian tersebut.
Kesimpulan makna yang terdapat pada pakaian Balahadada ini adalah terlepas dari status kebangsawan masyarakat Buton baik golongan Kaomu (La Ode / (Wa Ode) maupun golongan Walaka (Pejabat Penyelenggara Adat dan masyarakat Buton secara umum) karena kenyataan pada saat ini bahwa semua unsur-unsur tradisional (adat, pakaian dan lainnya) sudah digunakan secara keseluruhan oleh masyarakat. Hanya saja dalam pemakaiannya tentu saja masih terdapat perbedaan-perbedaan antara golongan bangsawan maupun bukan bangsawan khususnya pada kelengkapan-kelengkapan pakaian. Karena sampai saat ini masyarakat Buton baik yang berada di daerah maupun di luar daerah masih memegang teguh sistem peradatannya.
     2.  Pakaian Ajo Bantea
Ajo Bantea merupakan pengertian dari pakaian yang indah-indah. Pakaian ini hanya terdiri dari celana panjang (Sala Arabu) dan tindak menggunakan baju. Ajo Bantea adalah pakaian yang dikenakan oleh anak-anak atau lebih disebut sebagai Pakeana Mangaanaana yang belum menduduki jabatan khusus dalam sistem pemerintahan kesultanan Buton. Pakaian ini dilengkapi pula dengan berbagai kelengkapan seperti Kampurui Bewe Patawala atau Kampurui Tumpa atau Kampurui  Palangi yang dikenakan bersama Lepi-Lepi, Keris, sarung Samasili Kumbaea atau Bia Ibeloki , dan Bia Ogena.
Mengenai makna yang terkandung dalam pakaian Ajo Bantea berikut ini adalah kutipan wawancara yang dilakukan dengan para budayawan Buton :
Pakaian Ajo Bantea juga disebut sebagai pakeana manganaana. Pakaian ini dipakai oleh anak laki-laki yang belum menduduki suatu jabatan dalam pemerintahan kesultanan Buton. Pakaian ini tidak memakai baju (bertelanjang dada), hanya terdiri dari ikat kepala (Kampurui  Bewe Patawala atau Bewe Palangi atau Kampurui  Tumpa), Bia Ogena, Bia Samasili Kumbaea, Keris dan Celana panjang (Sala Arabu). Makna yang terkadung dari masing-masing tersebut di atas adalah sama dengan makna yang terkandung pada pakaian Balahadada.
Ajo Bantea memiliki pengertian yang berbeda yaitu; Ajo adalah mengenakan, memakai, menggunakan dan sejenisnya, sedang Bantea adalah barak atau tempat berkumpul untuk melakukan musyawarah.yang kemudian digunakan oleh para anak dari golongan bangsawan untuk belajar, bermain, berkumpul dan sebagainya dengan masyarakat.”
Dengan kata lain pakaian Ajo Bantea memiliki makna bahwa sifat keterbukaan dan kesederhanaan para anak golongan bangsawan untuk berkumpul bersama dengan masyarakat untuk melakukan berbagai hal secara bersama dengan tidak memandang status sosialnya masing-masing.
Sejalan dengan pendapat dari bapak La Ode Zaady tentang pakaian Ajo Bantea Berikut ini kutipan hasil wawancara dengan bapak  Hazirun Kudus mengenai baju Ajo Bantea.
Ajo Bantea dalam bahasa Buton disebut dengan Pakeana Manga Anaana atau dapat diartikan sebagai pakaian para anak khususnya dari golongan bangsawan. Untuk diketahui bahwa pakaian ini tidak mengenakan baju layaknya pakaian lain tetapi hanya menggunakan celana panjang (Sala Arabu), sedang kelengkapan pakaian ini terdiri dari Kampurui , Bia Ogena, Bia Samasili Kumbaea, dan Keris. Makna yang terkandung pada masing-masing kelengkapan ini adalah sama halnya dengan makna yang terdapat pada pakaian Balahadada. Sedang makna secara keseluruhan dari pakaian Ajo Bantea ini adalah adanya sifat keterbukaan dan kesederhanaan yang ditunjukkan para anak golongan bangsawan (La Ode) kepada masyarakat dengan mengaplikasikannya dengan terlibat secara langsung kedalam berbagai kegiatan kemasyarakatan”.
Ajo Bantea merupakan pakaian yang indah-indah yang khusus digunakan oleh anak golongan bangsawan yang belum menduduki suatu jabatan dalam pemerintahan kesultanan Buton masa lampau. Pakaian Ajo Bantea ini dilengkapi oleh beberapa kelengkapan yang terdiri dari Kampurui  (destar/ikat kepala) yang dibentuk sedemikian rupa yang melambangkan kebesaran dan keagungan sipemakai sebagai seorang pemimpin dan juga bermakna bahwa Ajo Bantea ini adalah memiliki makna adanya keterbukaan baik sikap maupun sifat untuk bermusyarawarah dan menerima hal-hal yang belum diketahuinya atau juga adanya sikap tegas seorang calon pemimpin Buton namun tetapi tidak dikhilafkan oleh kedudukan tersebut karena terikat sebuah ikat pinggang yang bertuliskan kalimat Tauhid yang berarti adanya ikatan atau pengukuhan adat berdasarkan ajaran agama dalam berkehidupan sehari-hari dan mau menerima keberadaan masyarakat umum lainnya sebagai satu kesatuan alam semesta  yang telah diciptakan oleh Allah SWT.   
    3.  Pakaian Ajo Tandaki
Ajo Tandaki adalah pakaian yang hanya terdiri dari selembar kain besar (Bia Ibeloki) dan berwarna hitam yang hanya dililitkan pada sekujur tubuh pemakainya. Pada permukaan pakaian Ajo Tandaki dilekatkan manik-manik motif ukiran bunga Rongo secara beraturan, sedang pada sekeliling pinggiran kain dijahitkan Pasamani atau hiasan yang terbuat dari benang emas atau perak.
Pakaian ini dapat digunakan pada saat seorang anak akan diislamkan (disunat) atau bahkan seseorang yang akan menikah duduk sebagai mempelai pria. Pakaian ini sangat mirip dengan pakaian ihram jemaah haji hanya yang berbeda adalah warnanya.
Kelengkapan pakaian terdiri dari Tandaki  (semacam mahkota) yang dibentuk dan ditata sedemikian rupa dengan berbagai hiasan dan aneka rupa sehingga tampak sebagai suatu lambang kebesaran pemakainya. Ikat pinggang yang diukir dengan kalimat Tauhid dan sebilah keris. 
Kekhususan baju ini terdapat pada Tandaki  sebagai mahkota yang digunakan sekaligus sebagai penyebutan nama baju tersebut. Tandaki  terbuat dari kain merah, manik-manik, bulu burung cenderawasih yang putih, benang-benang sutra merah dan berbagai macam hiasan yang terbuat dari perak, tembaga bahkan emas.
Berikut ini kutipan hasil wawancara mengenai makna yang terdapat pada pakaian AjoTandaki :
Ajo Tandaki adalah pakaian kebesaran anak bangsawan yang juga boleh dikenakan oleh masyarakat biasa pada saat menyelenggarakan acara adat khususnya prosesi sunatan (pengislaman). Pakaian ini sengaja dibuat sedemikian rupa dengan warnanya yang hitam dikandung maksud bahwa pada saat anak disunat, maka darah yang keluar dapat berkamuflase dengan warna kain sehingga tidak menimbulkan perasaan ngeri atau takut pada anak-anak tersebut.
Disamping itu Ajo Tandaki juga memiliki arti keterbukaan, kesederhanaan golongan Kaomu dalam berpenampilan adalah sesuatu yang harus diutamakan sehingga tidak menimbulkan berbagai fitnah dalam masyarakat.
Mahkota Tandaki  sendiri merupakan perlambangan dari keagungan dan kedamaian yang harus dijunjung tinggi dan dipatuhi dengan hati tulus ikhlas. Hal ini nampak pada jumbai yang turun dari kepala langsung ke dada yang berarti diserapkan kedalam kalbu. Keris yang terselip dipinggang adalah suatu lambang keberanian untuk membela hak berdasarkan adat dan agama dan Sulepe (ikat pinggang) adalah sebagai pengukuh berdasarkan ajaran agama dari pengertian-pengertian yang telah saya jelaskan”.
Ajo Tandaki adalah pakaian yang digunakan oleh para anak bangsawan yang memiliki arti keterbukaan,kesederhanaan golongan kaomu (golongan bangsawan) dalam hal berpenampilan dan menerima ajaran-ajaran dari orang tua tentang aturan-aturan yang berlaku di kesultanan Buton dan ajaran agama.
Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh bapak  La Ode Zaady dalam kutipan wawancara mengenai  Ajo Tandaki.
Tandaki  terdiri dari dua unsur yaitu Tandaki  sebagai mahkota dan Tandaki  sebagai pakaian. Tandaki  sebagai mahkota adalah wujud kebesaran, keagungan dan kedamaian yang harus dijunjung tinggi yang dilaksanakan dengan hati tulus ikhlas. Sedangkan Tandaki  sebagai pakaian adalah lambang keterbukaan, kebersahajaan, kesederhanaan dan sejenisnya oleh golongan bangsawan.
Kain yang digunakan sebagai baju dalam pakaian Ajo Tandaki ini adalah Bia Ibeloki yang dapat kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia yaitu sarung yang dililitkan kesekujur tubuh.
Makna dari keris yang digunakan adalah lambang keberanian untuk membela hak dan kewajiban dan ikat pinggang atau Sulepe adalah sebagai pengukuh ikatan adat yang berlandaskan ajaran agama. Ajo Tandaki secara umum digunakan pada saat anak akan di islamkan/disunat. Dengan warna hitam yang dimilikinya paling tidak akan mengurangi rasa takut dan ngeri anak pada saat darahnya keluar. Itulah sebabnya Ajo Tandaki digunakan pada saat anak akan disunat.
Berdasarkan kutipan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa AjoTandaki adalah pakaian yang hanya terdiri dari mahkota dan selembar kain lebar/besar yang disebut sebagai Bia Ibeloki dan berwarna hitam dengan dilekatkan manik-manik yang dijahit secara teratur. Tandaki  sebagai mahkota memiliki makna kebesaran, keagungan dan kedamaian yang harus dijunjung tinggi dilaksanakan dengan hati tulus dan ikhlas oleh pemakainya sedang bajunya adalah perlambangan sifat keterbukaan dan kesederhanaan kaum golongan bangsawan yang ditunjukkan kepada masyarakat sebagai contoh teladan dengan tidak membanggakan dirinya.
Selain makna di atas, pakaian ini juga mengandung arti ketenteraman. Yang dimaksudkan ketenteraman dalam hal ini adalah kurangnya rasa takut anak pada saat di sunat akibat yang dikeluarkan sehingga kalaupun darah merembes kepermukaan kain maka darah tersebut akan  tertutupi oleh warna hitam kain.
     4.  Baju Kombo
Baju Kombo adalah pakaian kebesaran kaum wanita Buton. Bahan dasar baju adalah kain satin dengan warna dasar putih, penuh dihiasi dengan manik-manik, benang-benang berwarna yang biasanya terdiri dari benang emas atau benang perak serta berbagai ragam hiasan yang terbuat dari emas, perak maupun kuningan.
Pakaian ini terdiri dari satu pasang, bagian atasan adalah baju dengan bawahan sarung yang disebut Bia Ogena (sarung besar). Bia Ogena adalah sarung yang terdiri dari gabungan beberapa macam warna polos seperti merah, hitam, hijau, kuning, biru dan putih dan dijahit secara bertingkat-tingkat.
Pada permukaan baju dijahitkan rangkaian manik-manik dengan formasi belah ketupat. Pada setiap petak-petak belah ketupat terdapat hiasan dari perak atau kuningan dengan motif Tawana Kapa (daun kapas) dan pada ujung daun kapas tersebut dijahitkan sekuntum bunga yang berdiri tegak.
Berikut ini adalah kutipan hasil wawancara mengenai makna yang terdapat pada baju Kombo:
Makna yang terdapat pada baju Kombo adalah sebagai berikut : (1) Dasar warna baju adalah putih yang melambangkan kesucian, kepolosan wanita Buton, (2) Bunga-bunga yang tumbuh tegak pada ujung Tawana Kapa adalah melambangkan harapan-harapan atas kebaikan, kesuburan, kesejahteraan, kelapangan dan hal-hal yang memiliki pengertian yang sama pada saat ia menjadi mempelai wanita dikemudian hari untuk membangun satu keluarga yang madani, (3) Perhiasan yang digunakan khususnya gelang tangan sebagai pertanda bahwa wanita Buton selalu taat dan patuh pada ikatan sistem peradatan dan ajaran agama yang dilingkarkan pada pergelangan tangannya, (4) Punto,berwarna dasar hitam yang dimaksudkan untuk melindungi rembesan darah haid wanita jika sedang dating bulan sehingga dapat tersamarkan, (5) Bia Ogena atau sarung yang dijahit secara bertingkat-tingkat adalah menunjukkan alam kejadian manusia dan jagad raya.
......Selanjutnya warna-warna tersebut bagi masyarakat Buton memiliki makna. Sebagai contoh warna biru bagi masyarakat Buton adalah lambang ketaatan dan kepatuhannya terhadap berbagai hal utamanya hukum adat dan agama yang harus selalu dikuti dan dijaga secara terus menerus”.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan bapak hazirun kudus mengenai baju kombo maka hal ini sejalan dengan pendapat dari bapak La Ode Zaady.  
Baju Kombo syarat akan makna. warna dasar baju adalah warna putih yang melambangkan kesucian, kedamaian dan sejenisnya. Pada  permukaan baju dijahitkan manik-manik (Tawana Kapa) yang beraneka rupa,dimana pada bagian ujung Tawana Kapa dijahitkan pula masing-masing sebuah hiasan bunga-bunga yang disebut sebagai bunga Rongo. Bunga inilah yang kemudian melambang keinginan-keinginan atau harapan-harapan wanita Buton untuk kehidupan masa depannya dalam upaya membentuk suatu keluarga.
Gelang yang berjumlah masing-masing empat buah pada tangan kanan dan kiri merupakan arti dari bahwa wanita Buton dalam semua aspek kehidupannya telah diikat oleh adanya hukum adat dan agama yang harus selalu menjadi sandaran dalam berkehidupan dengan lingkungannya.
Bia Ogena yang terdiri dari beberapa warna yang dijahit menjadi sebuah sarung merupakan lambang  proses kejadian alam dan manusia. sesuai dengan kepercayaan agama masyarakat Buton.Yang dijahit secara  bersusun, pertama adalah warna hitam. Warna ini khususnya pada Punto atau sarung hias yang berfungsi untuk mencegah merembesnya darah haid wanita pada saat datang bulan sehingga tidak terlalu nampak. Selanjutnya warna kuning. Warna kuning ini dimaksudkan sama, yaitu apabila darah telah merembes dari Punto maka darah tadi masih dapat pula disamarkan oleh warna kuning. Susunan kain ini sampai kebawah akan berfungsi sama dengan warna kuning dan hitam”.
Berdasarkan hasil wawancara di atas maka dapat disimpulkan bahwa baju Kombo pada prinsipnya mengandung arti adanya harapan-harapan kebaikan atas segala kebaikan dalam berkehidupan, disamping itu juga baju ini mempunyai makna yaitu warna dasar baju yang putih merupakan lambang  kesucian wanita Buton untuk selalu dijaga. Sedang kain berwarna yang dijahit secara bersusun disebut sebagai Lonjo. Lonjo dijahit secara bersusun bukan tanpa maksud tetapi dikandung maksud apabila rembesan darah haid tersebut telah menembus Punto, maka selanjutnya darah tersebut dapat pula tersamarkan oleh warna hijau atau kuning sampai pada bagian bawah susunan kain yang berwarna merah. Lonjo juga berarti susun atau tata. Lonjo ini diatur tiga susun warna yang menandakan bahwa di Buton terdapat 3 golongan masyarakat yaitu Kaomu, Walaka dan Papara. Dari sudut pandang islam Buton, Lonjo bermakna hubungan yang harus dijalani oleh manusia yaitu (1) Hubungan manusia dengan Tuhan/Hablum minallah, (2) Hubungan antar sesama manusia/Hablum Minannas, dan (3) Hubungan manusia dengan alam.mengandung dua makna yaitu makna lahir dan makna batin. Makna lahir adalah bahwa warna-warna yang  digunakan tersebut digunakan sebagai pencegah rembesan darah haid wanita agar tidak tampak pada saat wanita yang bersangkutan berada di keramaian, atau juga berfungsi sebagai sarung kebesaran wanita Buton itu sendiri. Makna batin yaitu adanya kaitan antara pemahaman atas pengertian warna terhadap proses kejadian alam dan manusia begitu juga dengan kepercayaan beragama masyarakat Buton dulu maupun sekarang. Seperti contoh gambar berikut (Gambar 4).
     5.  Baju Kaboroko
Kaboroko  berarti krah (leher) dikatakan demikian karena baju ini agak berbeda dengan jenis baju Buton lainnya, dimana baju ini mempunyai kerah yang disertai dengan adanya berbagai macam hiasan dan aksesoris yang dilekatkan padanya. Terdapat empat buah kancing logam pada leher sebelah kanan dan tujuh buah kancing pada lengan baju. Kancing-kancing itu tidak berfungsi sebagaimana lazimnya kacing baju, namun hanya merupakan pertanda golongan. Sarung lapisan dalam berwarna putih sedangkan lapisan luas (atas) sarung warna dasar hitam dengan corak garis-garis. Sarung tersebut disebut sebagai Samasili Kumbaea atau Bia-Bia Itanu. Pada sanggulnya diikatkan potongan-potongan yang digulung dari kain yang berwarna putih dan kuning.
Mengenai makna yang terkandung dalam pakaian Kaboroko  ini berikut akan disajikan kutipan hasil wawancara :
Kaboroko  berarti baju berkerah atau memiliki kerah. Penggunaan baju Kaboroko bagi wanita Buton adalah pada saat-saat diadakannya upacara adat (khususnya golongan Walaka/golongan tengah/ bukan La Ode/Wa Ode).
Tidak terdapat perbedaaan makna antara baju yang digunakan oleh bangsawan maupun bukan bangsawan. Pemakaian kain sarung yang dipakai secara berlapis-lapis ini dimaksudkan bahwa orang yang memakainya adalah para ibu rumah tangga yang telah memiliki anak keturunan sehingga bermakna telah mempunyai tanggung jawab yang harus selalu dijaga dan dilindunginya yang ditandai dengan penggunaan selendang yang dililitkan pada sekujur tubuhya dengan ketentuan warnanya.
Tetapi jika ia masih gadis, Kaboroko digunakan tidak dengan berlapis-lapis kain sarung, hanya satu buah sarung saja yang sekaligus berfungsi sebagai rok”.
Pengertian baju kaboroko menurut bapak Hazirun Kudus sama halya dengan pengertian dari bapak  La Ode Zaady, berikut kutipan hasil wawancaranya .
Kaboroko adalah salah satu baju adat yang digunakan oleh para wanita Buton. Baju ini terdiri dari satu lembar baju dan tiga lapis kain sarung yang dipergunakan secara bersamaan dengan lapisan paling bawah adalah kain sarung yang berwarna putih, lapisan kedua adalah Bia-Bia Itanu/Samasili Kumbaea sedang lapisan ketiga adalah kain lebar yang lebih mirip selendang dan dililitkan pada sekujur tubuh pemakainya dengan cara bagian ujung kain sebelah kiri dipegang oleh tangan kiri dengan arah ke dalam.
Terdapat perbedaan penggunaan warna selendang oleh para ibu pada baju Kaboroko . Antara lain warna Biru adalah bagi para ibu yang telah memiliki anak lebih dari satu orang, warna merah atau hitam bagi ibu yang baru mempunyai satu anak dan warna kuning adalah bagi para janda. Sedang maknanya adalah melindungi hak dan kewajiban pribadi maupun anggota keluarga dari segala hal yang dapat membahayakan kehidupannya, begitu juga tanggung jawab akan melindungi adat dan ajaran agama demi tercapainya keselamatan dan kesejahteraan hidup dalam bermasyarakat dan bernegara”.
Berdasarkan kutipan wawancara di atas maka dapat disimpulkan bahwa baju Kaboroko mempunyai makna bahwa seorang wanita harus melaksanakan hak dan kewajibannya dalam melindungi diri dan anggota keluarganya dari segala sesuatu yang dapat membahayakan kehidupan, adat dan ajaran agama. Sedang perbedaan warna yang terdapat pada selendang yang digunakan lebih cenderung kepada makna bahwa perbedaan jumlah  anak yang telah dimiliki.
     6.  Baju Kambowa
Kambowa adalah salah satu jenis pakaian adat Buton yang digunakan oleh para ibu, gadis maupun anak-anak dalam berbagai kesempatan adat bahkan dapat pula berfungsi sebagai pakaian hari-hari pada masa lampau. Baju terdiri dari satu buah baju berwarna polos (kuning, biru, hijau, ungu) begitu juga sarung yang digunakan. Baju ini berbentuk ponco dan tidak memiliki kerah baju. Lengan baju hanya sampai pada bawah siku dengan bahan satin.
Bagi seorang ibu bangsawan baju Kambowa ini digunakan pula kain sarung yang terdiri dari tiga lapis layaknya yang digunakan pada baju Kaboroko , sedang yang bukan bangsawan hanya menggunakan satu lapis sarung yaitu Bia-Bia Itanu/Samasili Kumbaea.
Lebih lanjut mengenai makna yang terkandung dalam baju Kambowa ini dapat dilihat pada kutipan hasil wawancara sebagai berikut :
leher baju yang tidak berkerah melambangkan bahwa pemakainya dilingkari oleh berbagai aturan adat dan agama yang harus dipatuhi dan dijalankan sepenuh hati demi kebaikannya sendiri”.
baju ini melambangkan bahwa pemakainya dilingkari oleh berbagai ajaran adat dan agama yang harus dilindunginya atau dapat saya katakan bahwa makna yang terdapat pada baju Kambowa ini adalah sama dengan makna yang terkandung dalam baju Kaboroko ”.
“untuk memudahkan adik mengartikan makna yang terdapat pada baju Kambowa maka makna apa yang terdapat pada baju Kaboroko  itulah juga makna baju Kambowa”.
“baju Kambowa memiliki makna yang sama dengan baju Kaboroko ” (Wawancara; La Ode Zaady, September 2006).
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa makna yang terdapat pada baju Kambowa adalah sama dengan makna yang terdapat pada baju Kaboroko . Namun demikian menurut para informan ada beberapa perbedaan kecil tentang makna antara baju Kambowa dengan baju Kaboroko.
     7.  Baju perangkat adat (Pakeana Syara)
Pakaian disebut demikian karena pakaian ini digunakan oleh para perangkat adat agama masjid agung Keraton Buton, Sultan dan Perangkat adat lainnya. Perbedaan makna akan ditemukan pada pakaian yang digunakan oleh perangkat masjid agung Keraton dengan Sultan dan pejabat dalam pemerintahan kesultanan Buton.
Pakaian ini adalah jenis pakaian jubah lengan panjang dengan motif  tenunan tradisional Buton. Motif ini adalah garis-garis yang membujur dan melingkar. Motif membujur pada baju sedang melingkar pada lengan baju. Makna yang terdapat di dalamnya adalah sebagai berikut :   
perbedaan motif yang terdapat pada pakaian perangkat adat adalah besar kecilnya tanggung jawab pada masing-masing bidang kerja”.
Pakaian sarana hukum atau perangkat adat adalah pakaian yang hanya digunakan oleh perangkat masjid agung keraton dengan Sultan dan pejabat dalam pemerintahan Kesultanan Buton dengan ciri yang spesifik yaitu penggunaan motif garis-garis yang besar untuk sara ogena,sedang untuk sara kidina menggunakan motif garis-garis kecil.hal ini berkaitan debngan besar kecilnya tanggung jawab yang dipikul oleh masing-masung sara.
Perbedaannya terletak pada motif garis baju. Jika perangkat masjid agung Keraton Buton mempunyai motif garis yang lebih kecil, maka Sara Ogena memiliki motif garis yang lebih besar. Garis kecil berarti terbatasnya bidang kerja sedangkan motif besar adaah luasnya bidang kerja yang menjadi tanggung jawabnya. Motif melingkar pada lengan baju bermakna bahwa pemakai dilingkari oleh berbagai aturan atau hukum-hukum adat dan agama dalam menjalankan tugasnya. Masing-masing anggota kedua syara ini dalam menjalankan tugasnya dilengkapi pula dengan tongkat jabatan (Katuko)”.
Berdasarkan kutipan wawancara di atas, dapat disimpulkan bahwa motif garis pada baju yang kemudian berbeda dalam ukurannya (besar-kecilnya garis) bermakna besar kecilnya pula masing-masing bidang pekerjaan atau tugas yang dijalankan. Sedang garis melingkar pada lengan menandakan bahwa pemakainya atau pejabat syara yang bersangkutan diikat / dilingkari oleh aturan atau hukum adat dan agama yang harus dipatuhi dalam menjalankan tugasnya.
Warna-Warna Yang Digunakan Pada Pakaian Adat Tradisional Buton
Pakaian tradisional Buton agak berbeda dengan pakaian adat tradisional daerah lain. Paling tidak hal ini ditunjukkan dari penggunaan warna-warna tertentu dalam pakaian adat tradisional buton itu sendiri yang hanya terdiri dari enam macam warna yaitu Hitam, Merah, Kuning, Biru, Hijau, Putih dan Ungu.
Pada pakaian adat tradisional Buton masing-masing pakaian umumnya menggunakan jenis warna dan motif hiasan yang sama pada baju dan celana. Kalaupun terdapat perbedaan warna itu terjadi pada kelengkapan pakaian seperti sarung ataupun lainnya yang bukan merupakan komponen dari baju dan celana.
Berikut adalah kutipan wawancara mengenai makna yang terkadung dalam warna-warna yang digunakan pada pakaian adat tradisional Buton :
Di Buton warna yang digunakan terdiri dari beberapa macam dan sangat erat kaitannya dengan unsur-unsur yang ada pada manusia. Pertama adalah Merah, yang bermakna keberanian dan juga darah. Ini diwujudkan pada pakaian atau kelengkapan yang digunakan. Sebagai contoh, Destar (Kampurui ) ikat kepala, hanya digunakan oleh panglima perang yang disebut dengan Kapitalao….yang berarti keberanian yang dimiliki seorang panglima perang dalam melindungi sultan dan pembelaan terhadap ajaran agama maupun adat yang berlaku di kesultanan Buton (Ya katakan Ya dan Tidak katakan Tidak). Hitam, yang bermakna kedalaman pemahaman atau kebijakan atau ketetapan hati dalam memutuskan berbagai ketentuan dalam kehidupan masyarakat. Putih, melambangkan kesucian dan ketulusan dalam bersikap maupun beribadah kepada Allah SWT sebagai seorang hamba. Artinya jika menggunakan warna ini maka pada hakikatnya adalah wujud kertaatan seluruh komponen masyarakat dan lainnya kepada sultan sebagai khalifah atau pembimbing dalam berbagai aspek kehidupan. Hijau, warna ini digunakan karena melambangkan kedewasaan sikap yang harus dimiliki setiap manusia. Kuning, yang bermakna adanya kemandirian dalam menjalankan ajaran-ajaran agama islam berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist.
Berdasarkan kutipan wawancara di atas, dapat disimpulkan bahwa warna-warna yang digunakan dalam pakaian adat tradisional Buton hanya terdiri dari warna hitam, merah, kuning, biru, hijau dan ungu. Umumnya baju dan celana pakaian adat tradisional buton terdiri dari warna dan motif yang sama. Warna-warna ini ternyata mengandung beberapa arti bagi masyarakat Buton antara lain yang berhubungan proses kejadian alam dan manusia, serta arti yang menunjukkan sikap masyarakat Buton itu sendiri serta menyatakan bahwa di Buton terdapat penggolongan masyarakat.
Aksesoris
Disamping sebagai penambah keindahan dalam berpenampilan, aksesoris yang digunakan dalam pakaian adat tradisional Buton disamping berfungsi sebagai pelengkap, juga menjadi simbol kebesaran dari masing-masing jenis pakaian adat Buton yang digunakan. Aksesoris ini umumnya terdiri dari pengikat kepala, anting-anting, akaluing, gelang tangan, cincin dan sebagainya.
Pada pakaian adat tradisional Buton terdapat beberapa jenis aksesoris begitu juga makna yang terkandung di dalamnya antara lain sebagai berikut :
(1) Panto
Panto adalah salah satu jenis aksesoris sekaligus sebagai penghias ikat rambut wanita dalam setiap kali menggunakan pakaian Buton. Bahnnya terbuat dari kain yang diberi hiasan-hiasan motif bunga dengan berbagai macam warna.
(2) Dali-Dali
Dali-Dali dalam bahasa Indonesia adalah anting-anting. Anting-anting umumnya terbuat dari emas, perak. Namun saat ini anting-anting yang digunakan dalam pemakaian pakaian adat tradisional Buton dalam berbagai kesempatan khusus umumnya terbuat dari kuningan karena hanya berfungsi sebagai kelengkapan adat saja.
(3) Giwang / kalung
Giwang atau kalung dalam bahasa Buton disebut sebagai Giwa (baca; giwva) terbuat dari emas, perak tau kuningan.
(4) Cincin
Cincin dalam bahasa Buton disebut sebagai Singkaru. Singkaru yang dimaksud adalah cincin yang berbentuk bulat. Sedang dalam masyarakat Buton terdapat salah satu jenis cincin yang bentuknya memanjang dan dipasangkan pada ibu jari pemakainya dan disebut sebagai Korokoronjo. Korokoronjo ini biasanya digunakan oleh wanita pada saat ia melaksanakan adat Posuo (pingitan) dan perkawinan.
(5) Punto
Punto disamping digunakan sebagai kelengkapan dalam berpakaian Kombo juga berfungsi sebagai sarung hias bagi pemakainya dengan dasar warna hitam dan motif Tawana Kapa yang dilekatkan pada pemukaan Punto tersebut, dan banyak ditaburi oleh berbagai manik-manik sehingga nampak indah terlihat.
(6) Kampurui
Kampurui adalah jenis ikat hiasan pria yang berfungsi sebagai pengikat kepala. Kampurui ini dalam masyarakat Buton dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan fungsinya. Pertama, Kampurui Bewe Patawala, digunakan oleh para pejabat kesultanan Buton. Kedua, Kampuri Palangi. Digunakan oleh para pejabat maupun sultan Buton sebagai kelengkapan kebesaran. Ketiga, Kampurui Tumpa, Kampurui ini boleh dikatakan menyerupai bentuk Kampurui Bewe Patawala yang terdiri dari dua warna dengan hiasan Pasamani (benang-benang emas atau perak) pada sekeliling pinggirannya. Keempat, Bewe Poporoki, digunakan oleh para pejabat khususnya yang berhubungna dengan adat dan ajaran agama islam.
(7) Sulepe
Sulepe diartikan sebagai ikat pinggang. Berfungsi sebagai penahan / pengikat baju atau celana pada bagian pinggang yang sekaligus mengandung makna bahwa pengukuh atau pengikat adat dan ajaran-ajaran agama. Penjelasan lihat pada poin (5) pakaian baju Balahadada. (Gambar Terlampir)
Makna yang ada pada aksesoris ini adalah sebagai penghias atau penambah penampilan agar lebih indah namun seperti ikat kepala, gelang tangan dan ikat pinggang menandakan bahwa wanita Buton dalam menjalankan kehidupannya terikat oleh aturan-aturan adat dan agama yang harus dipatuhinya dan dijalankan dengan hati ikhlas, kampurui merupakan kelengkapan pakaian kebesaran para pria Buton”.
Dapat disimpulkan bahwa aksesoris yang digunakan pada pakaian adat tradisional Buton disamping berfungsi sebagai penambah penampilan atau kelengkapan kebesaran dalam berpakaian juga mengandung makna yang intinya menjelaskan tentang proses kejadian alam semesta dan manusia dan atau sebagai pengukuh ikatan adat dan ajaran agama masyarakat suku Buton dalam berkehidupan.      

Kesultanan Buton

Kesultanan Buton terletak di Kepulauan Buton (Kepulauan Sulawesi Tenggara) Provinsi Sulawesi tenggara, di bagian tenggara Pulau Sulawesi . Pada zaman dahulu memiliki kerajaan sendiri yang bernama kerajaan Buton dan berubah menjadi bentuk kesultanan yang dikenal dengan nama Kesultanan Buton. Nama Pulau Buton dikenal sejak zaman pemerintahan Majapahit, Patih Gajah Mada dalam Sumpah Palapa, menyebut nama Pulau Buton.

Sejarah Awal

Mpu Prapanca juga menyebut nama Pulau Buton di dalam bukunya, Kakawin Nagarakretagama. Sejarah yang umum diketahui orang, bahwa Kerajaan Bone di Sulawesi lebih dulu menerima agama Islam yang dibawa oleh Datuk ri Bandang yang berasal dari Minangkabau sekitar tahun 1605 M. Sebenarnya Sayid Jamaluddin al-Kubra lebih dulu sampai di Pulau Buton, yaitu pada tahun 815 H/1412 M. Ulama tersebut diundang oleh Raja Mulae Sangia i-Gola dan baginda langsung memeluk agama Islam. Lebih kurang seratus tahun kemudian, dilanjutkan oleh Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani yang dikatakan datang dari Johor. Ia berhasil mengislamkan Raja Buton yang ke-6 sekitar tahun 948 H/ 1538 M.
Riwayat lain mengatakan tahun 1564 M. Walau bagaimana pun masih banyak pertikaian pendapat mengenai tahun kedatangan Syeikh Abdul Wahid di Buton. Oleh itu dalam artikel ini dirasakan perlu dikemukakan beberapa perbandingan. Dalam masa yang sama dengan kedatangan Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al- Fathani, diriwayatkan bahwa di Callasusung (Kulisusu), salah sebuah daerah kekuasaan Kerajaan Buton, didapati semua penduduknya beragama Islam.
Selain pendapat yang menyebut bahwa Islam datang di Buton berasal dari Johor, ada pula pendapat yang menyebut bahwa Islam datang di Buton berasal dari Ternate. Dipercayai orang-orang Melayu dari berbagai daerah telah lama sampai di Pulau Buton. Mengenainya dapat dibuktikan bahwa walaupun Bahasa yang digunakan dalam Kerajaan Buton ialah bahasa Wolio, namun dalam masa yang sama digunakan Bahasa Melayu, terutama bahasa Melayu yang dipakai di Malaka, Johor dan Patani. Orang-orang Melayu tinggal di Pulau Buton, sebaliknya orang-orang Buton pula termasuk kaum yang pandai belayar seperti orang Bugis juga.
Orang-orang Buton sejak lama merantau ke seluruh pelosok dunia Melayu dengan menggunakan perahu berukuran kecil yang hanya dapat menampung lima orang, hingga perahu besar yang dapat memuat barang sekitar 150 ton.

Raja Buton Masuk Islam

Kerajaan Buton secara resminya menjadi sebuah kerajaan Islam pada masa pemerintahan Raja Buton ke-6, iaitu Timbang Timbangan atau Lakilaponto atau Halu Oleo. Bagindalah yang diislamkan oleh Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani yang datang dari Johor. Menurut beberapa riwayat bahwa Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani sebelum sampai di Buton pernah tinggal di Johor. Selanjutnya bersama isterinya pindah ke Adonara (Nusa Tenggara Timur). Kemudian dia sekeluarga berhijrah pula ke Pulau Batu atas yang termasuk dalam pemerintahan Buton.
Sultan Buton ke 38, Muhamad Falihi Kaimuddin bersama Presiden RI Pertama Soekarno
Di Pulau Batu atas, Buton, Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani bertemu Imam Pasai yang kembali dari Maluku menuju Pasai (Aceh). Imam Pasai menganjurkan Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani pergi ke Pulau Buton, menghadap Raja Buton. Syeikh Abdul Wahid setuju dengan anjuran yang baik itu. Setelah Raja Buton memeluk Islam, Baginda langsung ditabalkan menjadi Sultan Buton oleh Syeikh Abdul Wahid pada tahun 948 H/1538 M.
Mengenai tahun tersebut, masih dipertikaikan karena sumber lain menyebutkan bahwa Syeikh Abdul Wahid merantau dari Patani-Johor ke Buton pada tahun 1564 M. Sultan Halu Oleo dianggap sebagai Sultan Buton pertama, bergelar Sultan atau Ulil Amri dan menggunakan gelar yang khusus yaitu Sultan Qaimuddin. Maksud perkataan ini ialah Kuasa Pendiri Agama Islam.
Dalam riwayat yang lain menyebut bahawa yang melantik Sultan Buton yang pertama memeluk Islam, bukan Syeikh Abdul Wahid tetapi guru dia yang sengaja didatangkan dari Patani. Raja Halu Oleo setelah ditabalkan sebagai Sultan Kerajaan Islam Buton pertama, dinamakan Sultan Murhum.
Ketika diadakan Simposium Pernaskahan Nusantara Internasional IV, 18 - 20 Julai 2000 di Pekan Baru, Riau, salah satu kertas kerja membicarakan beberapa aspek tentang Buton, yang dibentang oleh La Niampe, yang berasal dari Buton. Hasil wawancara saya kepadanya adalah sebagai berikut:
  1. Syeikh Abdul Wahid pertama kali sampai di Buton pada tahun 933 H/1526 M.
  2. Syeikh Abdul Wahid sampai ke Buton kali kedua pada tahun 948 H/1541 M.
  3. Kedatangan Syeikh Abdul Wahid yang kedua di Buton pada tahun 948 H/1541 M bersama guru dia yang bergelar Imam Fathani. Ketika itulah terjadi pengislaman beramai-ramai dalam lingkungan Istana Kesultanan Buton dan sekaligus melantik Sultan Murhum sebagai Sultan Buton pertama.
Maklumat lain, kertas kerja Susanto Zuhdi berjudul Kabanti Kanturuna Mohelana Sebagai Sumber Sejarah Buton, menyebut bahawa Sultan Murhum, Sultan Buton yang pertama memerintah dalam lingkungan tahun 1491 M - 1537 M. Menurut Maia Papara Putra dalam bukunya, Membangun dan Menghidupkan Kembali Falsafah Islam Hakiki Dalam Lembaga Kitabullah, bahawa ``Kesultanan Buton menegakkan syariat Islam ialah tahun 1538 Miladiyah.
Berkas:Kesultanan Buton.jpg
300px
Jika kita bandingkan tahun yang saya sebutkan (1564 M), dengan tahun yang disebutkan oleh La Niampe (948 H/1541 M) dan tahun yang disebutkan oleh Susanto Zuhdi (1537 M), berarti dalam tahun 948 H/1541 M dan tahun 1564 M, Sultan Murhum tidak menjadi Sultan Buton lagi karena masa dia telah berakhir pada tahun 1537 M. Setelah meninjau pelbagai aspek, nampaknya kedatangan Syeikh Abdul Wahid di Buton dua kali (tahun 933 H/1526 M dan tahun 948 H/1541 M) yang diberikan oleh La Niampe adalah lebih meyakinkan.
Yang menarik pula untuk dibahas ialah keterangan La Niampe yang menyebut bahawa ``Kedatangan Syeikh Abdul Wahid yang kedua kali di Buton pada tahun 948 H/1541 M itu bersama Imam Fathani mengislamkan lingkungan Istana Buton, sekaligus melantik Sultan Murhum sebagai Sultan Buton yang pertama. Apa sebab Sultan Buton yang pertama itu dilantik/dinobatkan oleh Imam Fathani? Dan apa pula sebabnya sehingga Sultan Buton yang pertama itu bernama Sultan Murhum, sedangkan di Patani terdapat satu kampung bernama Kampung Parit Murhum.
Kampung Parit Murhum berdekatan dengan Kerisik, iaitu pusat seluruh aktivitas Kesultanan Fathani Darus Salam pada zaman dahulu. Semua yang tersebut itu sukar untuk dijawab. Apakah semuanya ini secara kebetulan saja atau pun memang telah terjalin sejarah antara Patani dan Buton sejak lama, yang memang belum diketahui oleh para penyelidik.
Namun walau bagaimanapun jauh sebelum ini telah ada orang yang menulis bahwa ada hubungan antara Patani dengan Ternate. Dan cukup terkenal legenda bahawa orang Buton sembahyang Jumaat di Ternate.
Jika kita bandingkan dengan semua sistem pemerintahan, sama ada yang bercorak Islam maupun sekular, terdapat perbedaan yang sangat kental dengan pemerintahan Islam Buton. Kerajaan Islam Buton berdasarkan Martabat Tujuh. Daripada kenyataan ini dapat diambil kesimpulan bahwa kerajaan Islam Buton lebih mengutamakan ajaran tasawuf daripada ajaran yang bercorak zahiri. Namun ajaran syariat tidak diabaikan.
Semua perundangan ditulis dalam bahasa Walio menggunakan huruf Arab, yang dinamakan Buru Wolio seperti kerajaan-kerajaan Melayu menggunakan bahasa Melayu tulisan Melayu/Jawi. Huruf dan bahasa tersebut selain digunakan untuk perundangan, juga digunakan dalam penulisan salasilah kesultanan, naskhah-naskhah dan lain-lain. Tulisan tersebut mulai tidak berfungsi lagi menjelang kemerdekaan Indonesia 1945.
Bangsawan Buton

Pemerintahan

Kerajaan Buton berdiri tahun 1332 M. Awal pemerintahan dipimpin seorang perempuan bergelar Ratu Wa Kaa Kaa. Kemudian raja kedua pun perempuan yaitu Ratu Bulawambona. Setelah dua raja perempuan, dilanjutkan Raja Bataraguru, Raja Tuarade, Raja Rajamulae, dan terakhir Raja Murhum. Ketika Buton memeluk agama Islam, maka Raja Murhum bergelar Sultan Murhum.
Kerajaan Buton didirikan atas kesepakatan tiga kelompok atau rombongan yang datang secara bergelombang. Gelombang pertama berasal dari kerajaan Sriwijaya. Kelompok berikutnya berasal dari Kekaisaran Cina dan menetap di Buton. Kelompok ketiga berasal dari Kerajaan Majapahit. Sistem kekuasaan di Buton ini bisa dibilang menarik karena konsep kekuasaannya tidak serupa dengan konsep kekuasaan di kerajaan-kerajaan lain di nusantara. Struktur kekuasaan kesultanan ditopang dua golongan bangsawan: golongan Kaomu dan Walaka. Wewenang pemilihan dan pengangkatan sultan berada di tangan golongan Walaka, namun yang menjadi sultan harus dari golongan Kaomu. Jadi bisa dikatakan kalau seorang raja dipilih bukan berdasarkan keturunan, tetapi berdasarkan pilihan di antara yang terbaik.
Kelompok Walaka yang merupakan keturunan dari Si Panjonga memiliki tugas untuk mengumpulkan bibit-bibit unggul untuk dilatih dan dididik sedemikian rupa sehingga para calon raja memiliki bekal yang cukup ketika berkuasa nanti. Berdasarkan penelitian, Ratu Waa Kaa Kaa adalah proyek percobaan pertama kelompok Walaka ini Selain sistem pemilihan raja yang unik, sistem pemerintahannya juga bisa dikatakan lebih maju dari jamannya. Sistem pemerintahan kerajaan/kesultanan Buton dibagi dalam tiga bentuk kekuasaan. Sara Pangka sebagai lembaga eksekutif, Sara Gau sebagai lembaga legislatif, dan Sara Bhitara sebagai lembaga yudikatif. Beberapa ahli berani melakukan klaim kalau sistem ini sudah muncul seratus tahun sebelum Montesquieu mencetuskan konsep trias politica Peraturan hukum diterapkan tanpa diskriminasi, berlaku sama bagi rakyat jelata hingga sultan. Sebagai bukti, dari 38 orang sultan yang pernah berkuasa di Buton, 12 di antaranya diganjar hukuman karena melanggar sumpah jabatan. Dan hukumannya termasuk hukuman mati majelis rakyat Kesultanan Buton adalah lambang demokrasi Kesultanan Buton. di sini dirumuskan berbagai program kesultanan dan juga tempat untuk melaksanakan proses pemilihan sultan berdasarkan aspirasi masyarakat Buton.
Pembagian kelompok di majelis yang diatur dalam UU yang disebut Tutura ini adalah sebagai berikut:
  1. Eksekutif = Sara Pangka
  2. Legislatif = Sara Gau
  3. Yudikatif = Sara Bitara
Ada 114 anggota majelis Sara buton yang terdiri dari 3 fraksi
  1. Fraksi rakyat = Beranggotakan 30 menteri/bonto ditambah 2 menteri besar yang juga mewakili pemukiman-pemukiman di wilayah Buton.
  2. Fraksi pemerintahan = Pangka, Bobato, lakina Kadie yang mewakili pemerintahan.
  3. Fraksi Agama = Diwakili oleh pejabat lingkungan sarakidina/sarana hukumu yang berkonsentrasi di masjid agung kesultanan Buton.

Politik

Masa pemerintahan Kerajaan Buton mengalami kemajuan terutama bidang Politik Pemerintahan dengan bertambah luasnya wilayah kerajaan serta mulai menjalin hubungan Politik dengan Kerajaan Majapahit, Luwu, Konawe, dan Muna. Demikian juga bidang ekonomi mulai diberlakukan alat tukar dengan menggunakan uang yang disebut Kampua (terbuat dari kapas yang dipintal menjadi benang kemudian ditenun secara tradisional menjadi kain). Memasuki masa Pemerintahan Kesultanan juga terjadi perkembangan diberbagai aspek kehidupan antara lain bidang politik dan pemerintahan dengan ditetapkannya Undang-Undang Dasar Kesultanan Buton yaitu “Murtabat Tujuh” yang di dalamnya mengatur fungsi, tugas dan kedudukan perangkat kesultanan dalam melaksanakan pemerintahan serta ditetapkannya Sistem Desentralisasi (otonomi daerah) dengan membentuk 72 Kadie (Wilayah Kecil).

Masyarakat

Masyarakat Buton terdiri dari berbagai suku bangsa. Mereka mampu mengambil nilai-nilai yang menurut mereka baik untuk diformulasikan menjadi sebuah adat baru yang dilaksanakan di dalam pemerintahan kerajaan/kesultanan Buton itu sendiri. Berbagai kelompok adat dan suku bangsa diakui di dalam masyarakat Buton. Berbagai kebudayaan tersebut diinkorporasikan ke dalam budaya mereka. Kelompok yang berasal dari Tiongkok diakui dalam adat mereka. Kelompok yang berasal dari Jawa juga diakui oleh masyarakat Buton. Di sana terdapat Desa Majapahit, dan dipercaya oleh masyarakat sekitar bahwa para penghuni desa tersebut memang berasal dari Majapahit. Mereka sampai di sana karena perdagangan rempah-rempah. Dengan membuat pemukiman di sana, mereka dapat mempermudah akses dalam memperolah dan memperdagangkan rempah-rempah ke pulau Jawa. Beberapa peninggalan mereka adalah berupa gamelan yang sangat mirip dengan gamelan yang terdapat di Jawa.
Imam-imam yang menjabat di dalam dewan agama juga dipercaya merupakan keturunan Arab. Mereka dengan pengetahuan agamanya diterima oleh masyarakat Buton dan dipercaya sebagai pemimpin di dalam bidang agama. Berbagai suku dan adat tersebut mampu bersatu secara baik di dalam kerajaan/kesultanan Buton. Apabila kita melihat kerajaan/kesultanan lain, perbedaan itu seringkali memunculkan konflik yang berujung kepada perang saudara, bahkan perang agama. Sedangkan di Buton sendiri tercatat tidak pernah terjadi perang antara satu kelompok dengan kelompok lain, terutama bila menyangkut masalah suku dan agama.
Dapat dikatakan bahwa seluruh golongan di buton merupakan pendatang. Mereka menerapkan sistem yang berdasarkan musyawarah. Para perumus sistem kekuasaan atau sistem adat di Buton juga berasal dari berbagai kelompok suku dan agama. Ada yang berasal dari semenanjung Malaysia, Si Tamanajo yang berasal dari Kerajaan Pagaruyung. Ada pula yang berasal dari Jawa yaitu Sri Batara dan Raden Jutubun yang merupakan putra dari Jayanegara.
Seluruh golongan tersebut berasal dari kerajaan yang otoriter dan menerapkan sistem putera mahkota. Hampir semua peralihan kekuasaan tersebut dilakukan dengan kudeta. Di kerajaan Buton hal tersebut tidak pernah terjadi. Asumsinya, berdasarkan pengalaman pahit dalam jatuh-bangunnya pemerintahan tersebut, maka mereka yang berkumpul di tanah Buton tersebut merumuskan suatu sistem yang mampu melakukan peralihan kekuasaan tanpa harus melalui pahitnya kudeta maupun perang saudara.
Mereka berkumpul di tanah Buton sejak Gajah Mada mengumumkan sumpah palapa-nya. Pada masa itu Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran. Begitu juga Kerajaan Singosari. Seluruh raja-raja dan panglima yang tidak takluk pada Kerajaan Majapahit akan dijadikan budak. Pilihan mereka adalah dengan melarikan diri menuju tempat yang aman. Pulau Buton menjadi salah satu lokasi dimana beberapa pelarian tersebut singgah dan menetap.

Perekonomian

Wilayah kerajaan/kesultanan Buton sangat strategis. Pedagang dari India, Arab, Eropa maupun Cina lebih memilih untuk melalui jalur selatan Kalimantan untuk mencapai kepulauan rempah-rempah di Maluku. Bila melalui Utara Sulawesi dan selatan kepulauan Filipina, para pedagang akan berhadapan dengan bajak laut yang banyak berkeliaran di sana. Selain itu, angin di selatan Kalimantan lebih kencang daripada di sebelah utara Sulawesi. Masyarakat Buton telah menggunakan alat tukar uang yang disebut Kampua. Kampua Sehelai kain tenun dengan ukuran 17,5 kali 8 sentimeter. Pajak juga telah diterapkan di negeri ini. Tunggu Weti sebagai penagih pajak di daerah kecil ditingkatkan statusnya menjadi Bonto Ogena disamping sebagai penanggung jawab dalam pengurusan pajak dan keuangan juga mempunyai tugas khusus selaku kepala siolimbona (saat ini hampir sama dengan ketua lembaga legislatif).

Hukum

Hukum dijalankan sangat tegas dengan tidak membedakan baik aparat pemerintahan maupun masyarakat umum. Hal ini terlihat dari ke 38 orang sultan yang memerintah di Buton, 12 orang menyalahgunakan kekuasaan dan melanggar sumpah jabatan dan satu di antaranya yaitu Sultan ke - VIII Mardan Ali, diadili dan diputuskan untuk dihukum mati dengan cara leher dililit dengan tali sampai meninggal yang dalam Bahasa Wolio dikenal dengan istilah digogoli.

Bahasa

Etnik/Suku Buton sebutan bagi masyarakat yang berasal dari Kerajaan dan Kesultanan Buton, memiliki sejumlah bahasa yang berbeda tiap wilayah. Secara umum, setidaknya ada 4 bahasa yg digunakan oleh 4 kelompok/etnik masyarakat yakni Bahasa Pancana, Bahasa Cia-Cia, Bahasa Pulo (Wakatobi), dan Bahasa Moronene. Selain 4 bahasa tersebut masih terdapat pula beberapa bahasa yang digunakan oleh kelompok masyarakat yang lebih kecil, seperti bahasa Laompo/Batauga, Bahasa Barangka/Kapontori, Bahasa Wabula, Bahasa Lasalimu, Bahasa Kolencusu, Bahasa Katobengke dan sebagai bahasa pemersatu digunakan Bahasa Wolio. Bahasa Wolio ini merupakan bahasa resmi kesultanan.

Pertahanan

Bidang Pertahanan

Bidang Pertahanan Keamanan ditetapkannya Sistem Pertahanan Rakyat Semesta dengan falsafah perjuangan yaitu :
“Yinda Yindamo Arata somanamo Karo” (Harta rela dikorbankan demi keselamatan diri)
“Yinda Yindamo Karo somanamo Lipu” (Diri rela dikorbankan demi keselamatan negeri)
“Yinda Yindamo Lipu somanamo Sara” (Negeri rela dikorbankan demi keselamatan pemerintah)
“Yinda Yindamo Sara somanamo Agama” (Pemerintah rela dikorbankan demi keselamatan agama)
Disamping itu juga dibentuk sistem pertahanan berlapis yaitu empat Barata (Wuna, Tiworo, Kulisusu dan Kaledupa), empat matana sorumba (Wabula, Lapandewa, Watumotobe dan Mawasangka) serta empat orang Bhisa Patamiana (pertahanan kebatinan).
Selain bentuk pertahanan tersebut maka oleh pemerintah kesultanan, juga mulai membangun benteng dan kubu–kubu pertahanan dalam rangka melindungi keutuhan masyarakat dan pemerintah dari segala gangguan dan ancaman. Kejayaan masa Kerajaan/Kesultanan Buton (sejak berdiri tahun 1332 dan berakhir tahun 1960) berlangsung ± 600 tahun lamanya telah banyak meninggalkan warisan masa lalu yang sangat gemilang, sampai saat ini masih dapat kita saksikan berupa peninggalan sejarah, budaya dan arkeologi. Wilayah bekas Kesultanan Buton telah berdiri beberapa daerah kabupaten dan kota yaitu : Dengan wacana pembentukan Provinsi Kepulauan Buton yang terdiri dari Kabupaten Buton, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Buton Utara, Kota Bau-Bau, Kabupaten Buton Selatan, dan Kabupaten Buton Tengah. Serta tiga daerah yang masuk dalam Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Konawe Kepulauan, Kabupaten Bombana, Kabupaten Muna.

Daftar Sultan Kesultanan Buton

3) Daftar sultan / List of sultans
1) 1491-1537: Sultan Murhum
2) 1545-1552: Sultan La Tumparasi
3) 1566-1570: Sultan La Sangaji
4) 1578-1615: Sultan La Elangi
5) 1617-1619:  Sultan La Balawo
6) 1632-1645: Sultan La Buke
7) 1645-1646: Sultan La Saparagau
8) 1647-1654: Sultan La Cila
9) 1654-1664: Sultan La Awu
10) 1664-1669: Sultan La Simbata
11) 1669-1680: Sultan La Tangkaraja
12)1680-1689: Sultan La Tumpamana
13) 1689-1697: Sultan La Umati
14) 1697-1702: Sultan La Dini
15) 1702: Sultan La Rabaenga
16) 1702-1709: Sultan La Sadaha
17) 1709-1711: Sultan La Ibi
18) 1711-1712: Sultan La Tumparasi
19) 1712-1750: Sultan Langkariri
20) 1750-1752: Sultan La Karambau
21) 1752-1759: Sultan Hamim
22) 1759-1760: Sultan La Seha
23) 1760-1763: Sultan La Karambau
24) 1763-1788: Sultan La Jampi
25) 1788-1791: Sultan La Masalalamu
26) 1791-1799: Sultan La Kopuru
27) 1799-1823: Sultan La Badaru
28) 1823-1824: Sultan La Dani
29) 1824-1851: Sultan Muh. Idrus
30) 1851-1861: Sultan Muh. Isa
31) 1871-1886: Sultan Muh. Salihi
32) 1886-1906: Sultan Muh. Umar
33) 1906-1911: Sultan Muh. Asikin
34) 1914: Sultan Muh. Husain
35) 1918-1921: Sultan Muh. Ali
36) 1922-1924: Sultan Muh. Saifu
37) 1928-1937: Sultan Muh. Hamidi
38) 1937-1960: Sultan Muh. Falihi
39) mei 2012-19 july 2013:  La Ode Muhammad Jafar
40) 13 des. 2013 – sekarang La Ode Muhammad Izat Manarfa.

Tradisi Suku Buton, Keriaan "Pekande-kandea"


Wisatawan mancanegara mengikuti acara makan bersama pekande-kandea di Keraton Buton, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, akhir Mei 2015. Dalam tradisi makan khas suku Buton ini, para tamu disuapi oleh gadis-gadis yang belum menikah sambil berpantun.

PULUHAN gadis suku Buton bersiap di depan talang (nampan berisi makanan). Riasan di wajah plus busana adat kombo Wolio yang mereka kenakan membuat teriknya siang sedikit berkurang, terutama bagi para tamu yang lapar dan siap disuapi. Disuapi? Ya, gadis-gadis itu memang bakal menyuapi para tamu yang sejak tadi duduk berderet menunggu.

Pekande-kandea atau makan-makan dalam bahasa Wolio (Buton) itu memang sudah dinanti para tamu dari sejumlah daerah di Indonesia yang mengikuti forum group discussion (FGD) menuju Forum Budaya Dunia (WCF) 2016. Sudah dijadwalkan, pada 27 Mei 2015, digelar pekande-kandea di satu lapangan di Keraton Buton, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara.

Semua bersiap. Seseorang mulai membacakan pantun. ”Maimo sapo lapana puuna gau. Katupana mia bari atamajano”. Artinya: ’mari turun (datanglah), telah terwujud tekad yang diikrarkan. Ketupatnya banyak untuk orang banyak, datanglah’.

Seusai pantun dibacakan, dua pemuda berdiri berhadapan dengan masing-masing membawa satu botol air mineral. Keduanya mendesak maju, berusaha menuangkan minuman ke mulut pemuda di depannya. Akhirnya keduanya minum bersama. Acara ini menjadi kode untuk segera memulai pekande-kandea.

Segera setelah dua pemuda minum, pembawa acara meminta para gadis membuka talang. Tampak wajah-wajah semringah, terutama wajah para lelaki. Mimik muka gembira, sedikit jengah, dan lapar, bercampur baur.

Sedetik kemudian, para gadis menawarkan makanan. ”Mau makan nasi pakai lauk apa?” kata gadis bernama Poppy. Lelaki di depannya menunjuk dua lauk. Rupanya ikan dole dan ayam nasu wolio. Ikan dole ini adalah ikan goreng campur kelapa parut. Cara masaknya, ikan (bisa jenis apa saja) digiling halus, dicampur dengan parutan kelapa, lalu digoreng berbentuk segitiga. Ayam nasu wolio mirip dengan opor ayam, tetapi ayamnya dipanggang atau diasap lebih dahulu sebelum dimasak. Bau dan rasanya pun lebih menggoda. Sedap banget, pokoknya.

Setelah memilih makanan sesuai permintaan, Poppy pun menyendok sedikit nasi lontong dan secuil ikan dole lantas menyorongkan sendok ke mulut lelaki itu. Hap, nyam nyam.... Keduanya tertawa renyah, serenyah puluhan pasang lain yang mengikuti pekande-kandea. Setelah beberapa suap, Poppy, remaja Kelas III SMPN 2 Baubau itu, memberikan piring kepada Syahrir, lelaki di depannya, untuk melanjutkan santap siangnya.

Acara suap-suapan tersebut membuat siang makin meriah. Tidak semua orang terbiasa disuapi makanan, apalagi oleh orang yang belum dikenal. Oleh karena itu, banyak terlihat pipi yang bersemu merah. Aiiih.... Sebaliknya, banyak yang senang disuapi makanan, bahkan minta tambah.

Menyambut laskar

Pada zaman dulu, pekande-kandea merupakan tradisi untuk menyambut pulangnya para laskar Kesultanan Buton dari medan perang. Jika para laskar tersebut kembali dengan membawa kemenangan, pekande-kandea jauh lebih meriah lagi. Para gadis bersiap dengan makanannya untuk menyuapkannya ke para anggota laskar yang lelah sebagai penghargaan atas perjuangan mereka di medan laga.

”Tradisi ini terus dilestarikan sampai kini. Pada acara-acara jamuan makan pemerintahan atau menyambut tamu, pekande-kandea dilakukan,” kata budayawan Buton, La Ode Ahmad Munafi. Pekande-kandea ini bisa dibilang sebagai budaya kebersamaan yang diwujudkan dalam pesta makan. Paduan tradisi yang memuat kearifan lokal dan kuliner yang sarat makna. Nilai universal berpadu dengan lokalitas.

Temu jodoh

Di dalam buku Profil Pusaka Kota Baubau yang diterbitkan Bappeda Kota Baubau (2014) disebutkan, ritual pekande-kandea juga dilakukan untuk acara pertemuan muda-mudi. Lewat acara ini, banyak pemuda menemukan jodoh. Biasanya para pemuda memilih dulu gadis yang disukainya sebelum pekande-kandea dimulai. Sejurus setelah ada aba-aba, pemuda itu memburu tempat di depan talang yang ditunggui gadis pujaan.

”Dulu, memang jadi acara mencari jodoh. Kalau sekarang fungsinya untuk mempererat silaturahim, menyambut tamu. Biasanya juga dilakukan sewaktu acara Maulid Nabi Muhammad SAW bagi yang beragama Islam. Tradisi ini terus kami lestarikan karena baik sekali tujuannya, selain juga mengenalkan kuliner khas Buton,” tutur Yulia Widiarti, ketua panitia acara pekande-kandea.

Makanan yang disajikan merupakan campuran menu khas Buton dan lauk sesuai kreasi tuan rumah. Makanan yang harus ada, antara lain waje (wajik), cucur, baruasa (ketela dicampur kelapa parut dan gula), dan bholu (kue bolu). Untuk lauk, sup ikan atau parende yang sungguh sedap itu menjadi menu wajib. Ikan dole juga luar biasa enaknya. Lalu ada sayur konduru, sejenis labu yang dimasak dengan santan, dicampur dengan kelapa parut. Ah sedapnya

Sejarah dan Kebudayaan Suku Buton – Sulawesi Tenggara

Sejarah dan Kebudayaan Suku Buton – Sulawesi Tenggara
Kesultanan Buton (foto:wikipedia)
Sejarah dan Kebudayaan Suku Buton – Sulawesi Tenggara. Suku Buton adalah salah satu etnis yang mendiami wilayah kekuasaan Kesultanan Buton. Kesultanan Buton tersebut terletak di kepulauan Bau-bau provinsi Sulawesi Tenggara.

Sejarah

Nenek moyang suku Buton berasa dari imigran yang datang dari Johor sekitar abad 15 dan kemudian mendirikan kerajaan Buton. Kerajaan tersebut bertahan hingga tahun 1960 dimana sultan terakhir meninggal dunia. Sepeninggalan sultan terakhir tersebut membuat tradisi kepulauan Buton tercerai berai.

Sistem Kasta

Dalam kerajaan Buton diterapkan pula sistem kasta yang hanya diterapkan pada sistem pemerintahan dan ritual keagamaan saja. Berikut sistem kasta kerajaan Buton:

  1. Kaomu atau Kaumu (kaum ningrat/bangsawan) keturunan dari raja Wa Kakaa. Raja/Sultan dipilih dari golongan ini.
  2. Walaka, (elit penguasa) iaitu keturunan menurut garis bapak dari Founding Fathers Kerajaan  buton (mia patamiana). Mereka memegang jabatan penting di Kerajaan seperti mentri dan juga dewan. Mereka pula yang menunjuk siapa yang akan menjadi Raja/Sultan berikutnya.
  3. Papara atau disebut masyarakat biasa yang tinggal di wilayah kadie (desa) dan masih merdeka. Mereka dapat dipertimbangkan untuk menduduki jabatan tertentu di wilayah kadie, tetapi sama sekali tidak mempunyai jalan kepada kekuasaan di pusat.
  4. Babatua (budak), orang yang hidupnya bergantung terhadap orang lain/memiliki utang. meraka dapat diperjualbelikan atau dijadikan hadiah
  5. Analalaki dan Limbo. Mereka adalah golongan kaomu dan walaka yang diturunkan darajatnya kerana melakukan kesalahan sosial dan berlaku tidak pantas sesuai dengan status sosialnya.

Bahasa

Masyarakat Buton memiliki beragam bahasa yang begitu beragam. Hingga sekarang dapat ditemui lebih dari tiga puluhan bahasa dengan berbagai macam dialek. Wujud akulturasi dalam bidang bahasa, dapat dilihat dari adanya penggunaan bahasa Sansekerta yang dapat Anda temukan sampai sekarang dimana bahasa Sansekerta memperkaya perbendaharaan bahasa Buton.

Dalam perkembangan selanjutnya bahasa Sansekerta di gantikan oleh bahasa Arab seiring masuknya Ajaran Islam di Kerajaan Buton pada abad ke-15 M, banyaknya penggunaan bahasa Arab pada kosakata bahasa Buton menunjukkan tingginya pengaruh Islam dalam Kesultanan Buton. Disamping itu bahasa Buton juga menyerap unsur-unsur bahasa melayu.

Kepercayaan

Sebelum masuknya pengaruh Hindu ke Buton oleh bangsa Majapahit pada abad ke-13 dan Islam yang dibawah pada abad 15, masyarakat Buton mengenal dan memiliki kepercayaan yaitu pemujaan terhadap roh nenek moyang (animisme dan dinamisme). Masuknya agama Hindu-Islam mendorong masyarakat Buton mulai menganut agama Hindu-Islam walaupun tidak meninggalkan kepercayaan asli seperti pemujaan terhadap arwah nenek moyang dan dewa-dewa alam. Misalnya masyarakat nelayan Wakatobi khusunya Tomia mengenal adanya Dewa laut Wa Ode Maryam yang dipercaya dapat menjaga mereka dalam mengarungi lautan Banda yang terkenal ganas. Disamping itu masyarakat Buton juga mengenal Dewa yang melindungi keberadaan Hutan yang dikenal dengan nama Wa Kinam**** (tidak boleh disebut namanya/hanya diucapkan dengan cara berbisik)

Masuknya Islam di Buton pada abad ke-15, yang di bawah oleh Ulama dari Patani juga telah meletakkan dasar-dasar Ilmu Fikih kepada Kesultanan dan masyarakat Buton. Ilmu Fikih merupakan ilmu Islam yang mempelajari hukum dan peraturan yang mengatur hak dan kewajiban umat terhadap Allah dan sesama manusia sehingga masyarakat Buton dapat hidup sesuai dengan kaidah Islam. Dan Pada Abad ke-16 M, lahir dasar-dasar Ilmu Qalam dan Tasawuf di Buton, yang dibawah oleh Sufi yang berasal dari Aceh.

Mata Uang

Dahulu suku Buton sudah memiliki mata uang. Mata uang kesultanan Buton tersebut disebut dengan Kampua. Uniknya uang ini berbahan kain tenun dan merupakan satu-satunya yang pernah beredar di Indonesia. Menurut cerita rakyat, mata uang ini pertama kali diperkenalkan oleh Bulawambona, yaitu Ratu kerajaan Buton yang kedua, yang memerintah sekitar abad XIV.

Mata pencaharian

Perairan di pulau Buton dan Muna kaya akan ikan tuna dan ikan ekor kuning. Maka dari itu sebagian besar masyarakat suku Buton hidup pada bidang perairan menjadi pelaut dan nelayan. Tetapi sejak kesempatan untuk memperoleh penghasilan yang cukup di daerah terasa sulit, banyak dari mereka yang kemudian pergi meninggalkan mata pencaharian di sektor perairan. Dan kekinian kegiatan pertanian menjadi kegiatan utama perekonomian. Mereka menanam padi ladang, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kapas, kelapa, sirih, nanas, pisang dan lain-lain termasuk beberapa jenis sayuran.

Peninggalan sejarah kebudayaan

Orang Buton terkenal pula dengan peradabannya yang tinggi dan hingga saat ini peninggalannya masih dapat dilihat di wilayah-wilayah Kesultanan Buton, diantaranya Benteng Keraton Buton yang merupakan benteng terbesar di dunia, Istana Malige yang merupakan rumah adat tradisional Buton yang berdiri kokoh setinggi empat tingkat tanpa menggunakan sebatang paku pun, mata uang Kesultanan Buton yang bernama Kampua, dan banyak lagi.

Kehidupan sosial dan adat istiadat

Dalam hubungan kekerabatan masyarakat Suku Buton, seorang laki-laki bertugas mencari nafkah, sedangkan wanita menyiapkan makan, melakukan pekerjaan rumah tangga, membuat barang-barang dari tanah liat, menenun dan menyimpan uang yang telah dikumpulkan oleh kaum laki-laki.
Sejak dulu, orang Buton juga sangat mementingkan pendidikan. Pendidikan yang baik terhadap anak laki-laki dan perempuan membuat mereka memiliki kesusasteraan yang maju. Tidak ketinggalan pula dalam hal mempelajari bahasa asing. Karena itu, saat ini mulai terlihat hasil-hasil kemajuan di bidang sosial.

Perkawinan dalam kebudayaan Buton sudah bersifat monogami. Setelah menikah, pasangan akan tinggal di rumah keluarga wanita sampai sang suami anggup mendirikan rumah sendiri. Tanggup jawab membesarkan anak ada di bahu ayah dan ibu. Rumah tempat tinggal suku Wolio didirikan di atas sebidang tanah dengan menggunakan papah yang kuat, dengan sedikit jendela dan langit-langit yang terbuat dari papan yang kecil dan daun kelapa.

Sebagai kebiasaan dan kesadaran kolektif, masyarakat Suku Buton memilik tradisi yang bisa memperlancar pertumbuhan pribadi masyarakat. Hal ini erat hubungannya dengan keberadaan tradisi sebagai wadah penyimpanan norma sosial kemasyarakatan.

Tradisi

Sejumlah kearifan tradisi dari tradisi yang ada dalam masyarakat Buton adalah kangkilo. Merupakan modal sosial budaya masyarakat Buton untuk mewujudkan keselarasan dan keharmonisan hidup. Kearifan tradisi yang meliputi kesucian ritual dan kesucian rasa dan akhlak bila diketahui dan dipahami maknanya dengan baik akan membentuk karakter prilaku, tutur kata dan sikap positif masyarakat Buton sesuai dengan nilai etika dan moral yang dianjurkan dalam tradisi itu.
Selain itu juga terdapat ritual-ritual dan pesta Adat yang dilakukan masyarakat Buton hingga sekarang yang dikabarkan mengandung unsur Sinkritisme. Berikut ritual-ritual dan pesta adat tersebut:

  1. Goraana Oputa/Maludju Wolio yaitu ritual masyarakat Buton dalam menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan tiap tengah malam tanggal 12 Rabiul awal
  2. Qunua, yaitu ritual keagamaan yang dilakukan masyarakat Buton pada 16 malam bulan Ramadhan.
  3. Tuturiangana  Andaala yaitu Ritual kesyukuran masyarakat Buton yang berada di Pulau Makasar (liwuto) kepada Allah SWT,  atas keluasan rejeki yang terhampar luas disektor kelautan
  4. Mataa yaitu ritual adat yang digelar masyarakat Buton etnik cia-cia di desa Laporo yeng merupakan wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil panen yang diperoleh.
  5. Pekande-kandea yaitu pesta syukuran masyarakat Buton kepada Allah SWT atas limpahan anugrah yang diberikan
  6. Karia yaitu pesta adat masyarakat Buton yang berada di Kaledupa untuk menyambut anak-anak yang sedang beranjak dewasa. Pesta Rakyat ini diiringi dengan tarian-tarian yang dilakukan oleh pemangku adat, bersama orang tua kemudian memanjatkan doa bersama anak-anak mereka yang bertujuan untuk membekali anak-anak mereka dengan nilai-nilai moral dan spiritual.
  7. Posuo (pingit) yaitu pesta adat masyarakat Buton yang ditujukan pada kaum wanita yang memasuki usia remaja sekaligus menyiapkan diri untuk berumah tangga.
  8. Kabuenga, Haroa, Sambura’e dll